BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang masalah
Keterbelakangan baik secara mental,
maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat
kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk
memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi.
Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan "Kebangkitan
Nasional". Sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisasi pendidikan
dan pembebasan. Berangkat dari komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional
dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih
mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka
setelah berkordinasi dengan berbagai kyai, akhirnya muncul kesepakatan untuk
membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16
Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Yang dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy'ari sebagai
Rais Akbar.
B.
Rumusan masalah
Dari latar belakang diatas, maka dapat di rumuskan sebagai berikut :
1.
Bagaimana latar belakang sejarah
berdirinya NU?
C.
Batasan pembahasan
1.
Menejlaskan latar belakang sejarah
berdirinya NU
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Sejarah Kelahiran NU
Nahdlatul Ulama’, disingkat NU,
artinya kebangkitan ulama’. Sebuah organisasi yang didirikan oleh para ulama’
pada tanggal 31 Januari 1926/ 26 Rajab 1344 H di Surabaya.
Latar belakang berdirinya NU
berkaitan erat dengan perkembangan pemikiran keagamaan dan politik dunia Islam
kala itu. Pada tahun 1924, Syarif Husein, Raja Hijaz (Makkah) yang berpaham
Sunni ditaklukkan oleh Abdul Aziz bin Saud yang beraliran Wahabi. Tersebarlah
berita penguasa baru itu akan melarang semua bentuk amaliah keagamaan ala kaum
Sunni, yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun di Tanah Arab, dan akan
menggantinya dengan model Wahabi. Pengamalan agama dengan dengan system
bermadzhab, tawasul, ziarah kubur, maulid Nabi dan lain sebagainya, akan segera
dilarang.
Tidak hanya itu, Raja Ibnu Saud juga
ingin melebarkan pengaruh kekuasaannya ke seluruh dunia Islam. Dengan dalih
demi kejayaan Islam, ia berencana meneruskan kekhilafan Islam yang terputus di
Turki pasca runtuhnya daulah Utsmaniyyah. Untuk itu dia berencana menggelar
Muktamar Khilafah di Kota Suci Makkah, sebagai penerua Khilafah yang terputus
itu.
Seluruh negara Islam di dunia akan
diundang untuk menghadiri muktamar tersebut, termasuk Indonesia. Awalnya,
utusan yang direkomendasikan adalah HOS Cokroaminoto (SI), KH. Mas Mansur
(Muhammadiyah) dan KH. Abdul Wahab Chasbullah (pesantren). Namun, rupanya ada
permainan licik diantara kelompok yang mengusung para calon utusan Indonesia.
Dengan alas an Kiai Wahab tidak mewakili organisasi resmi, maka namanya dicoret
dari daftar calon utusan.
Peristiwa itu menyadarkan para
ulama’ pengasuh pesantren akan pentingnya sebuah organisasi. Sekaligus
menyisahkan sakit hati yang mendalam, karena tidak ada lagi yang bisa dititipi
sikap keberatan akan rencana Raja Ibnu Saud yang akan mengubah model beragama
di Makkah. Para ulama’ pesantren sangat tidak bisa menerima kebijakan raja yang
anti kebebasan bermadzhab, anti maulid Nabi, anti ziarah makam dan lain
sebagainya. Bahkan santer terdengar berita makam Nabi Muhammad SAW pun
berencana digusur.
Bagi para kyai pesantren, pembaruan
adalah suatu keharusan. KH. Hasyim Asy’ari juga tidak mempersoalkan dan bisa
menerima gagasan para kaum modernis untuk menghimbau umat Islam kembali pada
ajaran Islam murni. Namun Kyai Hasyim tidak bisa menerima pemikiran mereka yang
meminta umat Islam melepaskan diri dari system bermadzhab.
Disamping itu, karena ide pembaruan
dilakukan dengan cara melecehkan, merendahkan dan membodoh-bodohkan, maka para
ulama’ pesantren menolaknya. Bagi mereka, pembaruan tetap dibutuhkan, namun
tidak dengan meninggalkan khazanah keilmuan yang sudah ada dan masih relevan.
Karena latar belakang yang mendesak itulah akhirnya Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’
didirikan.
Pendiri resminya adalah Hadratus
Syeikh KH. M. Hasyim Asyari, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa
Timur. Sedangkan yang bertindak sebagai arsitek dan motor penggerak adalah KH.
Abdul Wahab Chasbullah, pengasuh Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas,
Jombang. Kiai Wahab adalah salah seorang murid utama Kiai Hasyim. Ia lincah,
energik dan banyak akal.
Susunan pengurus PBNU yang pertama (1926) :
Syuriah :
Rais Akbar : KH. M. Hasyim Asy’ari
(Jombang)
Wakil rais Akbar : KH. Dahlan Ahyad, Kebondalem (Surabaya)
Katib Awal : KH. Abdul Wahab Chasbullah (Jombang)
Katib Tsani : KH. Abdul Chalim (Cirebon)
A’wan : KH. Mas Alwi Abdul Aziz (Surabaya)
Wakil rais Akbar : KH. Dahlan Ahyad, Kebondalem (Surabaya)
Katib Awal : KH. Abdul Wahab Chasbullah (Jombang)
Katib Tsani : KH. Abdul Chalim (Cirebon)
A’wan : KH. Mas Alwi Abdul Aziz (Surabaya)
: KH. Ridwan
Abdullah (Surabaya)
: KH. Said (Surabaya)
: KH. Bisri Syansuri (Jombang)
: KH. Abdullah Ubaid (Surabaya)
: KH. Nahrowi (Malang)
: KH. Amin (Surabaya)
: KH. Masykuri (Lasem)
: KH. Nahrowi (Surabaya)
: KH. Said (Surabaya)
: KH. Bisri Syansuri (Jombang)
: KH. Abdullah Ubaid (Surabaya)
: KH. Nahrowi (Malang)
: KH. Amin (Surabaya)
: KH. Masykuri (Lasem)
: KH. Nahrowi (Surabaya)
Mustasyar : KH. R. Asnawi (Kudus)
: KH. Ridwan
(Semarang)
: KH. Mas Nawawi, Sidogiri (Pasuruan)
: KH. Doro Muntoho (Bangkalan)
: Syeikh Ahmad Ghonaim al-Misri (Mesir)
: KH. R. Hambali (Kudus)
: KH. Mas Nawawi, Sidogiri (Pasuruan)
: KH. Doro Muntoho (Bangkalan)
: Syeikh Ahmad Ghonaim al-Misri (Mesir)
: KH. R. Hambali (Kudus)
Tanfidziyyah :
Ketua : H. Hasan Gipo
(Surabaya)
Penulis : M. Sidiq Sugeng Judodiwirjo (Pemalang)
Bendahara : H. Burhan (Gresik)
Pembantu : H. Soleh Sjamil (Surabaya)
Penulis : M. Sidiq Sugeng Judodiwirjo (Pemalang)
Bendahara : H. Burhan (Gresik)
Pembantu : H. Soleh Sjamil (Surabaya)
: H. Ichsan
(Surabaya)
: H. Dja’far Alwan (Surabaya)
: H. Utsman (Surabaya)
: H. Ahzab (Surabaya)
: H. Nawawi (Surabaya)
: H. Dachlan (Surabaya)
: H. Mangun (Surabaya)
: H. Dja’far Alwan (Surabaya)
: H. Utsman (Surabaya)
: H. Ahzab (Surabaya)
: H. Nawawi (Surabaya)
: H. Dachlan (Surabaya)
: H. Mangun (Surabaya)
Organisasi Nahdltul Ulama’ didirikan
dengan tujuan untuk melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam
Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan menganut salah satu dari empat madzhab (Hanafi,
Maliki, Syafi’I dan Hambali).
Bahkan dalam Anggaran Dasar yang
pertama (1927) dinyatakan bahwa organisasi tersebut bertujuan untuk memperkuat
kesetiaan kaum muslimin pada salah satu madzhab empat.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan kala itu antara lain
:
1.
Memperkuatpersatuan ulama’ yang
masih setia kepada madzhab.
2.
Memberikkan bimbingan tentang
jenis-jenis kitab yang diajarkan pada lembaga-lembaga pendidikan Islam.
3.
Penyebaran ajaran Islam yang sesuai
dengan tuntunan madzhab empat.
4.
Memperluas jumlah madrasah dan
memperbaiki organisasinya.
5.
Membantu pembangunan masjid-masjid,
langgar dan pondok pesantren.
6.
Membantu anak-anak yatim piatu dan
fakir miskin.
Dalam pasal 3
Statuten Perkumpulan NU (1933) disebutkan:
“Mengadakan perhubungan diantara ulama’-ulama’ yang bermadzhab, memeriksa
kitab-kitab apakah itu dari kitab Ahlussunnah Waljama’ah atau kitab-kiitab ahli
bid’ah, menyiarkan agama Islam dengan cara apa saja yang halal; berikhtiar
memperbanyak madrasah, masjid, surau dan pondok pesantren, begitu juga dengan
hal ikhwalnya anak yatim dan orang-orang fakir miskin, serta mendirikan
baddan-badan untuk memajukan urusan pertanian, perniagaan, yang tidak dilarang
oleh syara’ agama Islam”.
2.2.
Perjalanan Nahdlatul Ulama’
a.
1926 – 1942
Berdiri di
Surabaya atas nama perkumpulan para ulama’. Pada masa ini perjuangan
dititik-beratkan pada penguatan paham Ahlussunnah Waljama’ah terhadap serangan
penganut ajaran Wahabi. Diantara program kerjanya adalah menyeleksi kitab-kitab
yang sesuai/tidak sesuai ajaran Ahlussunnah Waljama’ah. Di samping melakukan
penguatan persatuan diantara para kyai dan pengasuh pesantren.
Pada tahun
1937, empat orang tokoh pergerakan Islam berkumpul di Surabaya untuk mendirikan
federasi organisasi Islamm. Mereka adalah KH. Abdul Wahab Chasbullah dan KH.
Dahhlan Ahyad (keduuanya dari NU), KH. Mas Mansur (Muhammadiyah) dan
Wondoamiseno (Sarekat Islam). Pertemuan menyepakati berdirinya Majlis Islam
A’la Indonesia, disingkat MIAI.
Selain KH.
Abdul Wahab Chasbullah dan KH. Dahlan Ahyad yang tercatat sebagai salah seorang
pendiri MIAI, dalam perjalanan selanjutnya KH. A. Wachid Hasyim terpilih
sebagai Ketua Dewan MIAI – jabatan tertinggi yang ada dalam organisasi itu.
Ketika putera Hadratus Syeikh KH. M Hasyim Asy’ari itu mengundurkan diri,
posisinya digantikan oleh KH. M. Dahlan, yang juga tokoh NU.
Selain mereka, terdapat juga nama KH. Zainul Arifin, yang menjabat Ketua Komisi Pemberantas Penghinaan Islam dan KH. Machfudz Siddiq dalam Komisi Luar Negeri MIAI. Peranan para tokoh NU sangat dominan dalam menentukan perjalanan MIAI.
Selain mereka, terdapat juga nama KH. Zainul Arifin, yang menjabat Ketua Komisi Pemberantas Penghinaan Islam dan KH. Machfudz Siddiq dalam Komisi Luar Negeri MIAI. Peranan para tokoh NU sangat dominan dalam menentukan perjalanan MIAI.
Namun ketika
Jepang datang (Maret 1942), semua organisasii social kemasyarakatan dan organisasi
politik di Indonesia dibekukan. Termasuk NU dan MIAI. Bahkan Rais Akbar NU KH.
M. Hasyim Asy’ari dan Ketua Umum PBNU KH. Machfudz Siddiq ditahan oleh Jepang.
b.
1942 – 1945
Ketika
ormas-ormas dibekukan oleh Dai Nippon, perjuangan para kiai NU difokuskan
melalui jalur diplomasi. Tahun 1942, K.H. A.Wachid Hasyim dan beberapa kiai
masuk sebagai anggota Chuo Sangi-In(parleman Jepang).
Lewat parlemen
itu pula KH. A. Wachid Hasyim meminta agar pemerintahan balatentara Jepang
mengijinkan NU dan Muhammadiyah diaktifkan kembali. Pada bulan September 1943,
pemerintaan itu baru dikabulkan. NU dan Muhammadiyah bisa beraktivitas kembali
seperti di masa penjajahan Belanda.
Perjuangan
diplomasi terus ditingkatkan. Pada akhir Oktober 1943, atas prakarsa NU dan
Muhammadiyah pula,didirikan wadah perjuangan baru bagi umat Islam bernama
Majelis Syuro Muslimin Indonesia, disingkat Masyumi, dengan KH. A. Wachid
Hasyim Asy’ari sebagaian pimpinan tertinggi. Sedangkan K.H.A.Wachid Hasyim
duduk sebagai wakilnya. Masyumi adalah kelanjutan dari MIA yang dibubarkan oleh
balatentara Jepang.
Ketika
pemerintahan balatentara Jepang meminta para pemuda Islam Indonesia bergabung
menjadi prajurit pembantu tentara Jepang(Heiho), KH. A. Wachid Hasyim atas nama
pemimpin Masyumi, justru meminta agar jepang melatih kemiliteran pemuda Islam
secara khusus dan terpisah. Pada 14 Oktober 1944, permintaan itu dikabulkan
dengan dibentuknya Hizbullah. Mereka dilatih kemiliteran oleh para komandan
PETA dengan pengawasan prajurit Jepang. Bertindak sebagai Panglima Tertinggi
Hizbullah adalah KH. Zainul Arifin dari NU.
Sejak itu
pesantren-pesantren berubah menjadi markas pelatihan Hizbullah. Para santri
menjadi prajurit dan para Gus (putra kiai) menjadi komandannya. Sedangkan para
kiai sebagai penasehat spiritual sekaligus penentu kebijakannya.
Sementara di
bidang politik, selain aktif dalam pucuk pimpinan masyumi, KH. A. Wahid Hasyim
juga duduk sebagai Pimpinan Tertinggi Shumubu (Departemen Agama), menggantikan
KH. M. hasyim Asy’ari yang berhalangan untuk berkantor di Jakarta.
c.
1945 – 1952
Ketika Badan
Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dibentuk pada 29
April 1945, KH. A. Wahid Hasyim duduk sebagai salah satu anggotanya. Begitu
juga dengan KH. A. Wahab Chasbullah, KH. Masjkur dan KH. Zainul Arifin. KH. A.
Wahid Hasyim bergabung sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(PPKI). Ia juga tercatat sebagai salah seorang perumus dasar Negara dan turut
serta sebagai penanda tangan Piagam Jakarta, bersama delapan orang lainnya.
Disaat belanda
datang lagi dengan membonceng tentara sekutu sambil mengultimatum agar pejuang
Indonesia menyerah, NU mengeluarkan Fatwa Jihad pada 22 Oktober 1945. Fatwa
yang dikenal dengan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama’ itu mampu membakar semangat
perjuangan kaum muslimin. Mereka tidak gentar menghadapi kematian karena perang
tersebut dihukumi Perang Sabil (perang agama).
Setelah
Indonesia merdeka, banyak tokoh NU menduduki jabatan penting dalam
pemerintahan.
1.
Dalam Kabinet Presidensil (2
September 1945), KH. A. Wahid Hasyim duduk sebagai Menteri Negara.
2.
Dalam Kabinet Syahrir III (2 Oktober
1946), KH. Fathur Rahman Kafrawi duduk sebagai Menteri Agama dan KH. A. Wahid
Hasyim sebagai salah seorang Menteri Negara.
3.
Dalam Kabinet Amir Syarifuddin II
(1947), KH. Masjkur sebagai Menteri Agama.
4.
Dalam Kabinet Hatta I, Kabinet Hatta
II dan Kabinet Susanto (1948-1949), KH. Masjkur Sebagai menteri Agama.
5.
Dalam Kabinet RIS (20 Desember 1949
– 3 April 1952), KH. A. Wahid Hasyim Sebagai Menteri Agama.
Sementara dalam dunia kemiliteran, sejak tahun 1947
seluruh lasykar dibubarkan pemerintah, digabung menjadi satu dalam wadah
Tentara Nasional Imdonesia(TNI).banyak tokoh NU yang telah lama aktif dalam
Hizbullah bergabung ke dalam TNI.mereka turut memper kuat barisan angkatan perang
yang baru lahir itu
d.
1952 - 1973
Lewat Muktamar
NU ke-19 di Palembang pada 1952, NU menjadi partai politik sendiri, setelah
sekian lama bergabung dalam Masyumi kekuatan NU yang sebelumnya tidak
diperhitungkan, ternyata muncul kekuatan yang sangat besar. Dalam pemilu
pertama 1955, partai NU menduduki peringkat ketiga setelah PNI dan Masyumi
Banyak tokoh NU
menduduki posisi penting dalam pemerintahan,
1.
DalamKabinet Ali Sastroamijoyo I,
KH. Zainul Arifin sebagai Wakil Perdana Menteri, KH. Masjkur sebagai Menteri
Agama dan Muhammad Hanafiah sebagai Menteri Agraria.
2.
Dalam Kabinet Burhanuddin Harahap,
Sunaryo, SH menjadi Menteri Dalam Negeri dan KH. M. Ilyas sebagai Menteri
Agama.
3.
Dalam Kabinet Ali Sastroamijoyo II,
Dr. KH. Idham Chalid sebagai Wakil Perdana Menteri, Sunaryo, SH sebagai Menteri
Dalam Negeri, Mr Burhanuddin sebagai Menteri Perekonomian, Kh. Fattah yasin
sebagai Menteri Sosial dan KH. Ilyas sebagai menteri Agama.
4.
Dalam Kabinet Karya, Dr. KH. Idham
Chalid sebagai Wakil Perdana Menteri, Prof. Drs. Sunarjo sebagai menteri
Perekonomian yang kemudian digantikan oleh Drs. Rahmat Mulyomiseno, KH. M.
Ilyas sebagai Menteri Agama dan Sunaryo, Sh sebagai Menteri Agraria.
5.
Dalam Kabinet Kerja, KH. A. Wahib
Wahab sebagai Menteri Agama kemudian digantikan oleh KH. Saifuddin Zuhri, KH.
Fattah Yasin sebagai Menteri Penghubung Alim Ulama’ dan H. M. Hasan sebagai
Menteri PPP.
6.
Dalam Kabinet Dwikora, Dr. KH. Idham
Chalid sebagai Menko Kesra, KH. Saifuddin Zuhri sebagai Menteri Agama, KH.
Fattah Yasin sebagai Menteri Penghubung Alim Ulama’ yan kemudian digantikan
oleh KH. M. Ilyas dan H. Aminuddin Aziz sebagai Menteri Negara.
7.
Dalam Kabinet Ampera, Dr. KH. Idham
Chalid sebagai Menko Kesra dan KH. Saifuddin Zuhri sebagai Menteri Agama.
8.
Dalam Kabinet Pembangunan I, KH. M.
Dahlan sebagai Menteri Agama dan Dr. KH. Idham Chalid sebagai Menko Kesra.
Selain
berkiprah dalam pemerintahan, pada masa ini banyak juga tokoh NU yang menduduki
posisi pimpiman dalam Lembaga Tertinggi dan Lembaga Tinggi Negara. Mereka
adalah:
1.
KH.Zainul Arifin, menjadi Ketua
DPR-GR (1962 – 1963).
2.
HM.Subchan ZE, Wakil Ketua MPRS
(1966 - 1971).
3.
KH. A. Syaichu, Ketua DPR-GR (1966 -
1971).
4.
Dr. KH. Idham Chalid, Ketua MPR-DPR
RI (1971 - 1978).
Di samping
banyak tokoh NU menempati posisi strategis dalam Kabinet, Lembaga Tinggi
Negara, banyak juga yang diangkat Duta Besar RI di luar Negeri.
e.
1973 – 1984
Sejak Tahun
1973, Pemerintah Orde Baru ‘menerbitkan’ partai-partai peserta pemilu. Dari 10
peserta pemilu 1971, disederhanakan menjadi dua partai: partai-partai yang
berazas nasionalis dileburkanke dalam partai Demokrasi Indonesia (PDI),
sedangkan partai-partai yang berazas islami dileburkan ke dalam Partai
Persatuan Pembangunan (PPP). Partai NU tidak diakui lagi, dan diharuskan
melebur kedalam PPP. Sedangkan Golongan Karya (Golkar), tidak diakui sebagai
partai lagi,tapi diperbolhkan sebagai salah satu peserta pemilu.
Pada masa ini
tokoh NU ‘dibersihkan’ dari pemerintahan. Bahkan Menteri Agama yang sejak awal
langganan tetap NU pun diberikan orang lain. Para tokoh NU juga dikikis habis
dari berbagai jabatan di pemerintahan. Hanya dua orang yang diberi posisi
penting, yaitu KH. Masjkur sebagai Wakil Ketua MPR-DPR RI (1977 - 1983) dan KH.
Idham Chalid sebagai Dewan Pertimbangan Agung (1977 - 1982).
Dalam kancah
politik maupun pemerintahan, para tokoh NU benar-benar dipinggirkano oleh
pemerintah Orde Baru yang didukung penuh oleh TNI dan POLRI. Dalam dua kali
pemilu (1977 dan 1982) banyak tokoh NU masuk penjara dengan aneka macam
tuduhan.Sebagai dampak langsung dari sifat represif pemerintah kala itu,
banayak Cabang NU besrta Badan Otonmnya di daerah tidak aktif. Pengurusnya
ketakutan.
f.
1984 – 1998
Lewat Muktamar
NU ke-27 di Situbondo pada 1984, NU memasuki babak baru. Setelah malang
melintang dalam dunia politik praktis selama 32 tahun, akhirnya NU kembali ke
jati dirinya seperti saat didirikan pada tahun 1926. Preristiwa itu dikenal
dengan istilah kembali ke Khittah 1962. NU telah lepas dari politik praktis dan
kembali ke jam’iyah diniyah (organisasi keagamaan) yang mengurusi dakwah dan
keagamaan.
Dalam dua kali
pemilu kemudian (1987 dan 1992), banyak tokoh NU yang menjadi penggembosan PPP.
Selain karena paktor pribadi, aksi itu terjadi karena ekses dari campur tangan
pemerintah Orde Baru pada partai politik yang begitu mendalam. Amat adanya
unsur adu domba antara kelompk NU dan MI dalam kelom PPP. Akibat dari unsure
besar-besaran itu, PPP benar-benar gembos. Perolehan suaranya merosot tajam.
Sementara itu
NU mulai sibuk kembali membenahi sekolah-sekolah dan rumah sakit-rumah sakitnya
yang telah lama terabaikan. Pengajian-pengajian mulai masuk ke unit-unit
pemerintahan.Hubungan ke pemerintah yang telah sekian lama terputus dirajut
kembali sedikit demi sedikit. Satui persatu Cabang dan ranting yang mati
dihidupkan kembali.Di sisi lain, nama NU semakin dikenal di luar Negeri.
Beberapa kali Ketua Umum PBNU KH. Abdurrahman Wahid mendapat penghargaan.
Bahkan untuk pertama kalinya Ketua Umun PBNU terpilih sebagai salah satu
presiden Agama-agama di dunia(WRCP).
g.
1998 – 2004
Ketika terjadi
euphoria pasca jatuhnya Presiden Soeharto dan terbukanya Orde Reformasi dalam
dunia politik (1998), NU kembali masuk kembali ke dalam kancah politik praktis.
PBNU memfasilitasi berdirinya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada 23 Juli
1998. Mau tak mau partai baru ini menyeret NU ke dalam permainan politik lagi.
Untuk pertama
kalinya, Ketua Umum PBNU KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), terpilih sebagai
Presiden Replubik Indonesia keempat, 1999. Mau tak mau naiknya Gus Dur sebagai
presiden membawa dampak psikologis bagi NU. Euforia kemenangan masuk ke
berbagai lini. Banyak tokoh NU yang semula terpinggirkan kembali masuk ke
pemerintahan. Namun ketika Gus Dur dijatuhkan lewat impeachment DPR pada 2003,
dampaknya juga sangat dirasakan oleh NU dan PKB. Posisi NU terasa goyang
dimana-mana. Meski Wakil Presiden dijabat oleh Hamzah Haz yang juga orang NU,
namun tetap tidak banyak memberikan perubahan. Posisi itu semakin diperburuk
dengan gonjang ganjing dalam tubuh PKB. Bahkan partai itu terbelah menjadi dua.
h.
2004 – sekarang
Lewat
muktamarnya yang ke-31 di Donohudon, Solo pada 2004, Nu meneguhkan kembali jati
dirinya untuk keluar dari politik praktis dan kembali ke jalan Khittah
sebagaimana yang pernah diputuskan dalam muktamar ke-27 di Situbondo pada 1984.
Perjuangan Nu lebih difokuskan pada peningkatan kualitas pendidikan, ekonomi
dan dakwah. Sementara dalam politik praktis NU menjaga jarak yang sama terhadap
semua partai politik.
Pada masa ini
nama NU semakin dikenal di luar negeri. Bahkan telah menbuka Pengurus Cabang
Istimewa (PCI) di beberapa negara. Tak kurang dari PCI Amerika, Australia,
Inggris, Jepang, Saudi Arabia, Sudan, Mesir dan lain sebagainya telah
didirikan. Sedikit demi sedikit para mahasiswa NU dikirim untuk belajar ke luar
negeri, dengan biaya ataupun fasilitas dari PBNU.
Pada tahun 2004
NU memprakarsai berdirinya International Conference of Islamic Scholars (ICIS,
Konferensi Internasional Cendekiawan Islam) di Jakarta. ICIS adalah sebuah
organisasi Islam yang beranggotakan ulama’-ulama’ moderat sedunia. Lewat ICIS
itu pula nama Nahdlatul Ulama’ semakin dikenal di pentas dunia sebagai pelopor
gerakan Islam moderat, hingga sekarang.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari materi-materi yang
sudah disampaikan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Nahdlatul Ulama (Kebangkitan
Ulama) Didirikan pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926).
Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy'ari sebagi Rais Akbar,
Nahdlatul Ulama menganut paham Ahlussunah Wal Jama'ah, sebuah pola pikir yang
mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli
(rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli
(skripturalis), Jumlah warga Nahdlatul Ulama atau basis pendukungnya
diperkirakan mencapai lebih dari 40 juta orang, dari beragam profesi. Mereka
memiliki kohesifitas yang tinggi karena secara sosial-ekonomi memiliki masalah
yang sama, selain itu mereka juga sangat menjiwai ajaran Ahlusunnah Wal Jamaah
dan pada umumnya mereka memiliki ikatan cukup kuat dengan dunia pesantren yang
merupakan pusat pendidikan rakyat dan cagar budaya NU.
3.2. Saran
Perlu adanya
bimbingan khusus untuk masyarakat pada umunya dan pelajar maupun mahasiswa pada
khususnya untuk lebih mempelajari seluk beluk mauapun sejaran tentang Nahdlatul
Ulama (NU). Selain itu, peran tokoh masyarakat yang mendukung untuk lebih
meningkatkan NU di mata masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Kh. Wazir Ali. Lc 2012,”Hasil keputusan Basrul Masail PCNU Jombang”
Lajnah Ta’lif wannasyr (LTN-NU) Tim Penyusun Buku Aswaja PWLP Maarif NU Jatim
“Pendidikan Aswaja Dan ke-NU-an Kurikulum 2006”.
Pimpinan wilayah Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jawa Timur Wijaya, E.Juhana.
1999.
Sejarah Nasional dan Sejarah Umum. Bandung : Cv Armigo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar