BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Islam,
merupakan satu-satunya ajaran agama yang hakekatnya adalah untuk keselamatan
umat manusia. Hal ini dibuktikan dalam konteks ajarannya yang mengandung
nilai-nilai rahmatan lil alamin, artinya ajarannya bersifat universal, tidak
hanya dikhususkan kepada umat Islam, sebaliknya dapat meletakkan dasar-dasar
dan pola hidup yang tepat untuk dilaksanakan oleh segenap umat manusia.
Dalam rangka
pengaktualisasian konsep-konsep ajarannya itulah Islam mengembangkan strategi
dakwah, hal ini secara historis telah diteladankan oleh Rasulullah ketika
ajaran Islam pertama kali disyi’arkan kepada kaum quraiys saat itu. Dakwah
pertama kali dilakukan oleh Rasulullah dalam lingkungan keluarga secara
bertahap telah membentuk pola pikir, pola hidup dan keyakinan mereka tentang
keesaan Allah swt., yang kemudian berlanjut pada lingkungan sahabat dan
masyarakat umum. Demikianlah tahapan dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah
dalam membesarkan ajaran Islam di tengah-tengah kaum yang bobrok akhlaknya
serta dangkal aqidahnya. Namun dilandasi oleh semangat juang untuk menegakkan
kebenaran dan keesaan sang pencipta, seluruhnya itu dapat berubah hanya dalam
jangka waktu + 23 tahun.
Dalam hal
inilah diperlukan ajaran agama Islam yang dapat memberingan sumbangan berharga,
sebagaimana konsep ajarannya yang menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan
kehidupan akhirat. Sosialisasi ajaran agama Islam ditengah-tengah masyarakat
pembangun itu menggunakan strategi dakwah baik yang dilakukan secara lisan, maupun
fi’il, dan dapat dilakukan oleh setiap muslim. Dengan demikian, maka tujuan
dakwah secara umum dapat dikatakan membangun masyarakat yang maslahat dunia dan
akhirat melalui pengetahuan mendalam terhadap pokok-pokok syar’iyahnya.
B.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka
dapat di rumuskan sebagai berikut :
1.
Bagaimana tujuan, keutamaan dan
tujuan dalam dakwah?
C.
Batasan Pembahasan
Dari rumusan masalah diatas, maka
dapat di batasi dari pembahasan sebagai berikut :
1.
Menjelaskan tujuan, keutamaan dan tujuan
dalam dakwah.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Tujuan Dakwah
Proses
penyelenggaraan dakwah dilaksanakan dalam rangka mencapai nilai tertentu. Nilai
tertentu yang diharapkan dapat diperoleh dengan jalan melakukan aktifitas dan
realisasi dakwah itu disebut tujuan dakwah. Tujuan dakwah merupakan salah satu
tujuan umum dakwah, sehingga bisa dikatakan apabila unsur ini tidak ada maka
penyelenggaraan dakwah tidak akan membuahkan hasil seperti yang diharapkan atau
semua usaha akan sia-sia.
Mengenai
konteks tujuan dakwah ini, para pakar memberikan definisi yang berbeda-beda.
Namun perbedaan pendapat tersebut hanyalah dalam tataran redaksi bahasa.
Substansinya sesungguhnya sama yaitu demi kemaslahatan hidup manusia di dunia
dan kehidupan di akhirat.
Muhammad Natsir mengemukakan bahwa tujuan dakwah adalah:
1.
Memanggil manusia kepada syari’at untuk memecahkan persoalan hidup, baik
persoalan hidup perorangan ataupun rumah tangga, berjamaah, bermasyarakat,
bersuku-suku, berbangsa-bangsa dan bernegara.
2.
Memanggil manusia kepada fungsi hidup sebagai hamba Allah Swt di muka bumi,
menjadi pelopor, pengawas, pemakmur, pembesar kedamaian bagi umat manusia.
3.
Memanggil manusia kepada tujuan hidup yang hakiki yaitu menyembah Allah Swt.
sebagai satu-satunya zat Pencipta.
Di lain
pihak Dr. Mawardi Bachtiar berpendapat bahwa tujuan dakwah adalah mencapai
masyarakat yang adil dan makmur serta mendapat ridha Allah Swt.
Sedangkan
Prof. H.M. Arifin menjelaskan tujuan dakwah untuk menumbuhkan pengertian,
kesadaran, penghayatan dan pengamalan ajaran agama yang disampaikan oleh
pelaksana dakwah atau penerang agama.
Adapun menurut Prof. Toha Yahya Umar, M.A. menjelaskan bahwa tujuan dakwah
adalah untuk menobatkan benih hidayah dalam meluruskan i’tiqad, memperbanyak
amal secara terus-menerus, membersihkan jiwa dan menolak syubhat agama.
Selanjutnya
M. Syafaat Habib mengemukakan tujuan dakwah adalah berupaya untuk melahirkan
dan membentuk pribadi atau masyarakat yang berakhlak atau bermoral Islam. Lebih
jauh lagi Syeck Ali Mahfudz berpendapat bahwa tujuan dakwah adalah mendorong
manusia untuk menerapkan perintah agama dan meninggalkan larangan-Nya supaya
manusia mampu mewujudkan kehidupan bahagia di dunia dan di akherat.
Sementara Didin Hafiduddin menegaskan tujuan dakwah adalah untuk mengubah
masyarakat sebagai sasaran dakwah ke arah kehidupan yang lebih baik dan lebih
sejahtera lahiriah maupun bathiniah.
Dalam hal
tujuan dakwah Asmuni Syuki membagi tujuan dakwah ke dalam dua bagian yaitu
tujuan umum dan tujuan khusus.
a.
Tujuan Umum (mayor objektive)
Tujuan umum
dakwah adalah mengajak ummat manusia meliputi orang mukmin maupun orang kafir
atau musyrik kepada jalan yang benar dan diredhai Allah Swt. agar mau menerima
ajaran Islam dan mengamalkannya dalam dataran kenyataan kehidupan sehari-hari,
baik yang bersangkutan dengan masalah pribadi, maupun sosial kemasyarakatan
agar mendapat kehidupan di dunia dan di akherat.
b.
Tujuan Khusus (minor objektive)
Tujuan
khusus dakwah merupakan perumusan tujuan sebagai perincian dari tujuan umum
dakwah. Tujuan ini di maksudkan agar dalam pelaksanaan aktifitas dakwah dapat
di ketahui arahnya secara jelas, maupun jenis kegiatan apa yang hendak
dikerjakan, kepada siapa berdakwah dan media apa yang dipergunakan agar tidak terjadi
miss komunikasi antara pelaksana dakwah dengan audience (penerima dakwah) yang
hanya di sebabkan karena masih umumnya tujuan yang hendak dicapai.
2.2.
Keutamaan Dakwah
a.
Dakwah menjadi utama karena ia adalah muhimmatur rusul (tugas para nabi
dan rasul).
ö@è% ¾ÍnÉ»yd þÍ?Î6y (#þqãã÷r& n<Î) «!$# 4 4n?tã >ouÅÁt/ O$tRr& Ç`tBur ÓÍ_yèt6¨?$# ( z`»ysö6ßur «!$# !$tBur O$tRr& z`ÏB úüÏ.Îô³ßJø9$# ÇÊÉÑÈ
Katakanlah (Hai Muhammad): “Inilah jalanku: aku dan
orang-orang yang mengikutiku berdakwah (mengajak kamu) kepada Allah
dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang
yang musyrik”. (Yusuf (12): 108).
b.
Dakwah menjadi utama karena ia adalah ahsanul a’mal (sebaik-baik amal).
ô`tBur ß`|¡ômr& Zwöqs% `£JÏiB !%tæy n<Î)
«!$# @ÏJtãur $[sÎ=»|¹
tA$s%ur ÓÍ_¯RÎ)
z`ÏB tûüÏJÎ=ó¡ßJø9$# ÇÌÌÈ
Siapakah yang lebih
baik perkataannya daripada orang yang berdakwah (menyeru) kepada Allah,
mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk
orang-orang yang menyerah diri?” (Fushilat (41): 33).
c.
Dakwah menjadi utama karena dengan berdakwah seorang muslim meraih pahala
yang teramat besar (al-hushul ‘alal ajri al-azhim).
Sabda Rasulullah saw kepada Ali bin Abi
Thalib: “Demi Allah, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan
(dakwah)mu maka itu lebih bagimu dari unta merah.” (Bukhari, Muslim &
Ahmad).
d.
Dakwah menjadi utama karena dapat menyelamatkan da’i dari azab Allah swt
dan pertanggungjawaban di akhirat.
Perumpamaan orang yang tegak di atas
hukum-hukum Allah dengan orang yang melanggarnya seperti kaum yang menempati
posisinya di atas bahtera, ada sebagian yang mendapatkan tempat di atas, dan
ada sebagian yang mendapat tempat di bawah. Mereka yang berada di bawah jika
akan mengambil air harus melewati orang yang berada di atas, lalu mereka
berkata: “Jika kita melubangi bagian bawah milik kita dan tidak mengganggu
mereka..” Kalau mereka membiarkan keinginan orang yang akan melubangi, mereka
semua celaka, dan jika mereka menahan tangan mereka maka selamatlah semuanya.
(HR. Bukhari).
e.
Dakwah menjadi utama karena ia adalah jalan menuju khairu ummah
(terbentuknya umat yang terbaik).
Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, dimana
Rasulullah saw berhasil mengubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik
sepanjang zaman dengan dakwah beliau. Dakwah secara umum dan pembinaan kader
secara khusus adalah jalan satu-satunya menuju terbentuknya khairu ummah yang
kita idam-idamkan. Rasulullah saw melakukan tarbiyah mencetak kader-kader
dakwah di kalangan para sahabat beliau di rumah Arqam bin Abil Arqam ra, beliau
juga mengutus Mush’ab bin Umair ra ke Madinah untuk membentuk basis dan cikal
bakal masyarakat terbaik di Madinah (Anshar).
2.3.
Tugas Dakwah
Tugas pendakwah adalah mengajak
manusia menuju agama Allah merupakan salah satu ibadah yang agung, manfaatnya
menyangkut orang lain. Bahkan dakwah menuju agama Allah merupakan perkataan
yang paling baik. Allah Azza wa Jalla berfirman:
ô`tBur ß`|¡ômr&
Zwöqs% `£JÏiB !%tæy n<Î)
«!$# @ÏJtãur $[sÎ=»|¹
tA$s%ur ÓÍ_¯RÎ)
z`ÏB tûüÏJÎ=ó¡ßJø9$# ÇÌÌÈ
“Siapakah yang lebih
baik perkataannya daripada orang yang menyeru menuju Allah, mengerjakan amal
yang shalih dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang
berserah diri". (QS Fushshilat:33).
Tugas dakwah antara lain :
a.
bersungguh-sungguh
dan tekun (al jiddiyah wal mu’azhibah). Kesungguhan adalah modal utama untuk
dapat menunaikan setiap tugas. Dan kesungguhan merupakan indikasi dari sikap
yang penuh tanggung jawab. Ia pun cerminan dari keimanan dan keyakinan yang
kuat akan pertemuannya dengan Sang Rabbul Izzati sehingga melahirkan perilaku
siap dan sedia menunaikan suatu tugas yang diamanahkan kepadanya. Dari sinilah,
akan diukur seberapa besar kesiapan dan kesediaan yang berdampak pada kepuasan
masyarakat akan pelayanan dan penunaian tanggung jawab tersebut.
b.
aktivitas yang
berkesinambungan (istimrariyatul amal).
Karena waktu senantiasa berjalan tak kenal henti, amalpun
tak boleh berhenti. Memang suatu tugas dikira sudah selesai namun ternyata
masih ada setumpuk tugas lainnya yang sedang menunggu untuk diselesaikan.
Gambaran yang sering diungkapkan orang adalah bergeraknya
amal ini bagai deburan ombak di lautan yang datang silih-berganti dengan
deburan ombak lainnya kadang ombak besar kadang ombak kecil. Bila amal tersebut
dilakukan bak ombak tadi niscaya amal datang susul-menyusul dan tidak akan
pernah mati. Olah kreatifitas amal perlu digesahkan kepada seluruh lapisan
kader sehingga mereka bisa menciptakan berbagai amal yang variatif.
c.
kedisiplinan
terhadap manhaj (indhibatul manhajiyah).
Manhaj merupakan rambu perjalanan dakwah ini. Ia bagaikan
denah yang menunjukan arah dan apa yang mesti dilakukan. Karena itu, setelah
selesainya satu tugas perlu melihat kembali apa yang telah digariskan oleh
manhaj dakwah tentang tugas-tugas ke depan. Bila terkait dengan tarbiyah, ia
perlu diterapkan secara disiplin sesuai arahannya. Sebagaimana petunjuk Allah
SWT kepada Nabi Yahya as: “Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.
Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak”. (QS. Maryam:
12). Tentunya, hal ini juga berlaku kepada seluruh kader untuk menerapkan
tuntutan manhaj secara disiplin sehingga ia dapat menghantarkan perjalanan
dakwah ini dari satu mihwar ke mihwar lainnya dengan sistematis.
d.
keteladanan dan
arahan (al qudwah wat taujih).
Komunitas suatu masyarakat kadang akan mudah terbentuk bila
memiliki cermin jernih yang menjadi panutan bagi yang lain. Karena panutan
bagai mercusuar yang akan mengarahkan dan juga menjadi ukuran atau kiblat
mereka. Di sinilah pentingnya keteladanan antara satu dengan yang lain.
Keteladanan dalam ubudiyah, ijtima’iyah, mu’amalah maupun
keteladanan dalam amal siyasi. Tentu, keteladanan yang dimaksud adalah bahwa
seluruh kader menjadi contoh bagi yang lain. Apalagi seluruh elemen masyarakat
menjadi penilainya. Mereka tentu ingin panutannya bagai cermin jernih tanpa
goresan.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, maka dapat di simpulkan
sebagai berikut :
tujuan
dakwah adalah mendorong manusia untuk menerapkan perintah agama dan
meninggalkan larangan-Nya supaya manusia mampu mewujudkan kehidupan bahagia di
dunia dan di akherat.
Keutamaan dakwah adalah :
1.
Dakwah menjadi utama karena ia adalah muhimmatur rusul (tugas para nabi
dan rasul).
2.
Dakwah menjadi utama karena ia adalah ahsanul a’mal (sebaik-baik amal).
3.
Dakwah menjadi utama karena dengan berdakwah seorang muslim meraih pahala
yang teramat besar (al-hushul ‘alal ajri al-azhim).
4.
Dakwah menjadi utama karena dapat menyelamatkan da’i dari azab Allah swt
dan pertanggungjawaban di akhirat.
5.
Dakwah menjadi utama karena ia adalah jalan menuju khairu ummah
(terbentuknya umat yang terbaik).
Sedangkan Tugas pendakwah
adalah mengajak manusia menuju agama Allah merupakan salah satu ibadah yang
agung, manfaatnya menyangkut orang lain. Bahkan dakwah menuju agama Allah
merupakan perkataan yang paling baik.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Psikologi Dakwah;
Suatu Pengantar Studi, Jakarta: Bumi Aksara, 1994
Achmad, Amrullah, Dakwah Islam dan Perubahan
Sosial, Yogyakarta: Prima Duta, 1983
Adisasono (et al), Solusi
Islam atas Problematika Umat, Jakarta: Gema Insani Press, 1998
Bactiar, Mawardi, Metodologi
Penelitian Dakwah, Jakarta: Wijaya, 1982
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahnya,
Jakarta: Yayasan Pnyelenggara dan Penafsir al-Qur’an, 1990
Habib, M. Syafaat, Buku
Pedoman Dakwah, Jakarta: Wijaya, 1982
Luth, Thahir, Muhammad Natsir,
Dakwah dan Pemikirannya, Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 1999
Mahfudz, Syeck Ali, Hidayah
al-Mursyidin, Jakarta: Bulan Bintang, 1993
Shaleh, Abd. Rosyad, Manajemen Dakwah Islam,
Cet. III; Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1993
Umar, Toha Yahya, Ilmu Dakwah,
Jakarta, t. th
Wildan, Dadan, Yang Da’i yang
politikus Hayat Perjuangan Lima Tokoh Persis, Cet. III; Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 1999.