disini aku dibesarkan

disini aku dibesarkan
disini aku di didik

Selasa, 03 Desember 2013

TUJUAN, KEUTAMAAN DAN TUGAS DALAM DAKWAH



BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Islam, merupakan satu-satunya ajaran agama yang hakekatnya adalah untuk keselamatan umat manusia. Hal ini dibuktikan dalam konteks ajarannya yang mengandung nilai-nilai rahmatan lil alamin, artinya ajarannya bersifat universal, tidak hanya dikhususkan kepada umat Islam, sebaliknya dapat meletakkan dasar-dasar dan pola hidup yang tepat untuk dilaksanakan oleh segenap umat manusia.
Dalam rangka pengaktualisasian konsep-konsep ajarannya itulah Islam mengembangkan strategi dakwah, hal ini secara historis telah diteladankan oleh Rasulullah ketika ajaran Islam pertama kali disyi’arkan kepada kaum quraiys saat itu. Dakwah pertama kali dilakukan oleh Rasulullah dalam lingkungan keluarga secara bertahap telah membentuk pola pikir, pola hidup dan keyakinan mereka tentang keesaan Allah swt., yang kemudian berlanjut pada lingkungan sahabat dan masyarakat umum. Demikianlah tahapan dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah dalam membesarkan ajaran Islam di tengah-tengah kaum yang bobrok akhlaknya serta dangkal aqidahnya. Namun dilandasi oleh semangat juang untuk menegakkan kebenaran dan keesaan sang pencipta, seluruhnya itu dapat berubah hanya dalam jangka waktu + 23 tahun.
Dalam hal inilah diperlukan ajaran agama Islam yang dapat memberingan sumbangan berharga, sebagaimana konsep ajarannya yang menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Sosialisasi ajaran agama Islam ditengah-tengah masyarakat pembangun itu menggunakan strategi dakwah baik yang dilakukan secara lisan, maupun fi’il, dan dapat dilakukan oleh setiap muslim. Dengan demikian, maka tujuan dakwah secara umum dapat dikatakan membangun masyarakat yang maslahat dunia dan akhirat melalui pengetahuan mendalam terhadap pokok-pokok syar’iyahnya.

B.            Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka dapat di rumuskan sebagai berikut :
1.      Bagaimana tujuan, keutamaan dan tujuan dalam dakwah?

C.           Batasan Pembahasan
Dari rumusan masalah diatas, maka dapat di batasi dari pembahasan sebagai berikut :
1.      Menjelaskan tujuan, keutamaan dan tujuan dalam dakwah.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1.       Tujuan Dakwah
Proses penyelenggaraan dakwah dilaksanakan dalam rangka mencapai nilai tertentu. Nilai tertentu yang diharapkan dapat diperoleh dengan jalan melakukan aktifitas dan realisasi dakwah itu disebut tujuan dakwah. Tujuan dakwah merupakan salah satu tujuan umum dakwah, sehingga bisa dikatakan apabila unsur ini tidak ada maka penyelenggaraan dakwah tidak akan membuahkan hasil seperti yang diharapkan atau semua usaha akan sia-sia.
Mengenai konteks tujuan dakwah ini, para pakar memberikan definisi yang berbeda-beda. Namun perbedaan pendapat tersebut hanyalah dalam tataran redaksi bahasa. Substansinya sesungguhnya sama yaitu demi kemaslahatan hidup manusia di dunia dan kehidupan di akhirat.
Muhammad Natsir mengemukakan bahwa tujuan dakwah adalah:
1.             Memanggil manusia kepada syari’at untuk memecahkan persoalan hidup, baik persoalan hidup perorangan ataupun rumah tangga, berjamaah, bermasyarakat, bersuku-suku, berbangsa-bangsa dan bernegara.
2.             Memanggil manusia kepada fungsi hidup sebagai hamba Allah Swt di muka bumi, menjadi pelopor, pengawas, pemakmur, pembesar kedamaian bagi umat manusia.
3.             Memanggil manusia kepada tujuan hidup yang hakiki yaitu menyembah Allah Swt. sebagai satu-satunya zat Pencipta.
Di lain pihak Dr. Mawardi Bachtiar berpendapat bahwa tujuan dakwah adalah mencapai masyarakat yang adil dan makmur serta mendapat ridha Allah Swt.
Sedangkan Prof. H.M. Arifin menjelaskan tujuan dakwah untuk menumbuhkan pengertian, kesadaran, penghayatan dan pengamalan ajaran agama yang disampaikan oleh pelaksana dakwah atau penerang agama.
Adapun menurut Prof. Toha Yahya Umar, M.A. menjelaskan bahwa tujuan dakwah adalah untuk menobatkan benih hidayah dalam meluruskan i’tiqad, memperbanyak amal secara terus-menerus, membersihkan jiwa dan menolak syubhat agama.
Selanjutnya M. Syafaat Habib mengemukakan tujuan dakwah adalah berupaya untuk melahirkan dan membentuk pribadi atau masyarakat yang berakhlak atau bermoral Islam. Lebih jauh lagi Syeck Ali Mahfudz berpendapat bahwa tujuan dakwah adalah mendorong manusia untuk menerapkan perintah agama dan meninggalkan larangan-Nya supaya manusia mampu mewujudkan kehidupan bahagia di dunia dan di akherat.
Sementara Didin Hafiduddin menegaskan tujuan dakwah adalah untuk mengubah masyarakat sebagai sasaran dakwah ke arah kehidupan yang lebih baik dan lebih sejahtera lahiriah maupun bathiniah.
Dalam hal tujuan dakwah Asmuni Syuki membagi tujuan dakwah ke dalam dua bagian yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
a.             Tujuan Umum (mayor objektive)
Tujuan umum dakwah adalah mengajak ummat manusia meliputi orang mukmin maupun orang kafir atau musyrik kepada jalan yang benar dan diredhai Allah Swt. agar mau menerima ajaran Islam dan mengamalkannya dalam dataran kenyataan kehidupan sehari-hari, baik yang bersangkutan dengan masalah pribadi, maupun sosial kemasyarakatan agar mendapat kehidupan di dunia dan di akherat.
b.             Tujuan Khusus (minor objektive)
Tujuan khusus dakwah merupakan perumusan tujuan sebagai perincian dari tujuan umum dakwah. Tujuan ini di maksudkan agar dalam pelaksanaan aktifitas dakwah dapat di ketahui arahnya secara jelas, maupun jenis kegiatan apa yang hendak dikerjakan, kepada siapa berdakwah dan media apa yang dipergunakan agar tidak terjadi miss komunikasi antara pelaksana dakwah dengan audience (penerima dakwah) yang hanya di sebabkan karena masih umumnya tujuan yang hendak dicapai.



2.2.       Keutamaan Dakwah
a.              Dakwah menjadi utama karena ia adalah muhimmatur rusul (tugas para nabi dan rasul).
ö@è% ¾ÍnÉ»yd þÍ?ŠÎ6y (#þqãã÷Šr& n<Î) «!$# 4 4n?tã >ouŽÅÁt/ O$tRr& Ç`tBur ÓÍ_yèt6¨?$# ( z`»ysö6ßur «!$# !$tBur O$tRr& z`ÏB šúüÏ.ÎŽô³ßJø9$# ÇÊÉÑÈ  
Katakanlah (Hai Muhammad): “Inilah jalanku: aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah (mengajak kamu)  kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf (12): 108).
b.             Dakwah menjadi utama karena ia adalah ahsanul a’mal (sebaik-baik amal).
ô`tBur ß`|¡ômr& Zwöqs% `£JÏiB !%tæyŠ n<Î) «!$# Ÿ@ÏJtãur $[sÎ=»|¹ tA$s%ur ÓÍ_¯RÎ) z`ÏB tûüÏJÎ=ó¡ßJø9$# ÇÌÌÈ  
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang berdakwah (menyeru) kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fushilat (41): 33).
c.              Dakwah menjadi utama karena dengan berdakwah seorang muslim meraih pahala yang teramat besar (al-hushul ‘alal ajri al-azhim).
Sabda Rasulullah saw kepada Ali bin Abi Thalib: “Demi Allah, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan (dakwah)mu maka itu lebih bagimu dari unta merah.” (Bukhari, Muslim & Ahmad).
d.             Dakwah menjadi utama karena dapat menyelamatkan da’i dari azab Allah swt dan pertanggungjawaban di akhirat.
Perumpamaan orang yang tegak di atas hukum-hukum Allah dengan orang yang melanggarnya seperti kaum yang menempati posisinya di atas bahtera, ada sebagian yang mendapatkan tempat di atas, dan ada sebagian yang mendapat tempat di bawah. Mereka yang berada di bawah jika akan mengambil air harus melewati orang yang berada di atas, lalu mereka berkata: “Jika kita melubangi bagian bawah milik kita dan tidak mengganggu mereka..” Kalau mereka membiarkan keinginan orang yang akan melubangi, mereka semua celaka, dan jika mereka menahan tangan mereka maka selamatlah semuanya. (HR. Bukhari). 
e.              Dakwah menjadi utama karena ia adalah jalan menuju khairu ummah (terbentuknya umat yang terbaik).
 Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, dimana  Rasulullah saw berhasil mengubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik sepanjang zaman dengan dakwah beliau. Dakwah secara umum dan pembinaan kader secara khusus adalah jalan satu-satunya menuju terbentuknya khairu ummah yang kita idam-idamkan. Rasulullah saw melakukan tarbiyah mencetak kader-kader dakwah di kalangan para sahabat beliau di rumah Arqam bin Abil Arqam ra, beliau juga mengutus Mush’ab bin Umair ra ke Madinah untuk membentuk basis dan cikal bakal masyarakat terbaik di Madinah (Anshar).

2.3.       Tugas Dakwah
Tugas pendakwah adalah mengajak manusia menuju agama Allah merupakan salah satu ibadah yang agung, manfaatnya menyangkut orang lain. Bahkan dakwah menuju agama Allah merupakan perkataan yang paling baik. Allah Azza wa Jalla berfirman:
    ô`tBur ß`|¡ômr& Zwöqs% `£JÏiB !%tæyŠ n<Î) «!$# Ÿ@ÏJtãur $[sÎ=»|¹ tA$s%ur ÓÍ_¯RÎ) z`ÏB tûüÏJÎ=ó¡ßJø9$# ÇÌÌÈ  
 “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru menuju Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (QS Fushshilat:33).
Tugas dakwah antara lain :
a.              bersungguh-sungguh dan tekun (al jiddiyah wal mu’azhibah). Kesungguhan adalah modal utama untuk dapat menunaikan setiap tugas. Dan kesungguhan merupakan indikasi dari sikap yang penuh tanggung jawab. Ia pun cerminan dari keimanan dan keyakinan yang kuat akan pertemuannya dengan Sang Rabbul Izzati sehingga melahirkan perilaku siap dan sedia menunaikan suatu tugas yang diamanahkan kepadanya. Dari sinilah, akan diukur seberapa besar kesiapan dan kesediaan yang berdampak pada kepuasan masyarakat akan pelayanan dan penunaian tanggung jawab tersebut.
b.             aktivitas yang berkesinambungan (istimrariyatul amal).
Karena waktu senantiasa berjalan tak kenal henti, amalpun tak boleh berhenti. Memang suatu tugas dikira sudah selesai namun ternyata masih ada setumpuk tugas lainnya yang sedang menunggu untuk diselesaikan.
Gambaran yang sering diungkapkan orang adalah bergeraknya amal ini bagai deburan ombak di lautan yang datang silih-berganti dengan deburan ombak lainnya kadang ombak besar kadang ombak kecil. Bila amal tersebut dilakukan bak ombak tadi niscaya amal datang susul-menyusul dan tidak akan pernah mati. Olah kreatifitas amal perlu digesahkan kepada seluruh lapisan kader sehingga mereka bisa menciptakan berbagai amal yang variatif.
c.              kedisiplinan terhadap manhaj (indhibatul manhajiyah).
Manhaj merupakan rambu perjalanan dakwah ini. Ia bagaikan denah yang menunjukan arah dan apa yang mesti dilakukan. Karena itu, setelah selesainya satu tugas perlu melihat kembali apa yang telah digariskan oleh manhaj dakwah tentang tugas-tugas ke depan. Bila terkait dengan tarbiyah, ia perlu diterapkan secara disiplin sesuai arahannya. Sebagaimana petunjuk Allah SWT kepada Nabi Yahya as: “Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak”. (QS. Maryam: 12). Tentunya, hal ini juga berlaku kepada seluruh kader untuk menerapkan tuntutan manhaj secara disiplin sehingga ia dapat menghantarkan perjalanan dakwah ini dari satu mihwar ke mihwar lainnya dengan sistematis.
d.             keteladanan dan arahan (al qudwah wat taujih).
Komunitas suatu masyarakat kadang akan mudah terbentuk bila memiliki cermin jernih yang menjadi panutan bagi yang lain. Karena panutan bagai mercusuar yang akan mengarahkan dan juga menjadi ukuran atau kiblat mereka. Di sinilah pentingnya keteladanan antara satu dengan yang lain.
Keteladanan dalam ubudiyah, ijtima’iyah, mu’amalah maupun keteladanan dalam amal siyasi. Tentu, keteladanan yang dimaksud adalah bahwa seluruh kader menjadi contoh bagi yang lain. Apalagi seluruh elemen masyarakat menjadi penilainya. Mereka tentu ingin panutannya bagai cermin jernih tanpa goresan.
 BAB III
PENUTUP

3.1.   Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, maka dapat di simpulkan sebagai berikut :
tujuan dakwah adalah mendorong manusia untuk menerapkan perintah agama dan meninggalkan larangan-Nya supaya manusia mampu mewujudkan kehidupan bahagia di dunia dan di akherat.
Keutamaan dakwah adalah :
1.             Dakwah menjadi utama karena ia adalah muhimmatur rusul (tugas para nabi dan rasul).
2.             Dakwah menjadi utama karena ia adalah ahsanul a’mal (sebaik-baik amal).
3.             Dakwah menjadi utama karena dengan berdakwah seorang muslim meraih pahala yang teramat besar (al-hushul ‘alal ajri al-azhim).
4.             Dakwah menjadi utama karena dapat menyelamatkan da’i dari azab Allah swt dan pertanggungjawaban di akhirat.
5.             Dakwah menjadi utama karena ia adalah jalan menuju khairu ummah (terbentuknya umat yang terbaik).
Sedangkan Tugas pendakwah adalah mengajak manusia menuju agama Allah merupakan salah satu ibadah yang agung, manfaatnya menyangkut orang lain. Bahkan dakwah menuju agama Allah merupakan perkataan yang paling baik.
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Psikologi Dakwah; Suatu Pengantar Studi, Jakarta: Bumi Aksara, 1994
Achmad, Amrullah, Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, Yogyakarta: Prima Duta, 1983

Adisasono (et al), Solusi Islam atas Problematika Umat, Jakarta: Gema Insani Press, 1998

Bactiar, Mawardi, Metodologi Penelitian Dakwah, Jakarta: Wijaya, 1982
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, Jakarta: Yayasan Pnyelenggara dan Penafsir al-Qur’an, 1990

Habib, M. Syafaat, Buku Pedoman Dakwah, Jakarta: Wijaya, 1982

Luth, Thahir, Muhammad Natsir, Dakwah dan Pemikirannya, Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 1999

Mahfudz, Syeck Ali, Hidayah al-Mursyidin, Jakarta: Bulan Bintang, 1993
Shaleh, Abd. Rosyad, Manajemen Dakwah Islam, Cet. III; Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1993

Umar, Toha Yahya, Ilmu Dakwah, Jakarta, t. th

Wildan, Dadan, Yang Da’i yang politikus Hayat Perjuangan Lima Tokoh Persis, Cet. III; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999.